“Apakah kalian mengimani sebagian al-Quran dan mengingkari sebagian yang lainnya? Tiada balasan bagi orang-orang yang berbuat demikian di antara kalian selain kenistaan dalam kehidupan dunia, sementara pada hari Kiamat kelak mereka dilemparkan ke dalam azab yang sangat berat.” ( QS al-Baqarah [2]: 85 ) Sobat muda muslim, coba deh kita perhatiin lingkungan di sekitar kita sekarang ini. Sepertinya kian steril dari aturan Islam. Mulai dari cara berpakaian, bergaul, di tempat kerja, sekolah, atau di sekitar rumah.
Semuanya udah dibalut dengan paham sekuler yang berasal dari gaya hidup Barat. Paham ini yang nempatin aturan agama cuma buat di masjid atau majelis taklim doang. Itu pun sebatas lisan dan ritualitas belaka. Padahal kita sebagai muslim mestinya juga harus mengamalkan ajaran Islam di mana saja, kapan saja, dan dalam kondisi apapun. Kata pak ustadz Islam Kaffah tahu kan..... Ini yang seringkali jadi dilema bagi remaja muslim. Tentu, dilema yang dialami remaja muslim amat wajar terjadi. Karena aturan lingkungan di sekitar kita seolah memaksa mereka untuk sekuler. Inilah yang dikehendaki musuh-musuh Islam. Melalui media informasi mereka, kita digiring mengikuti budaya Barat yang sekuler dengan cap modern, gaul bin trendi. Hingga kita nggak bisa lihat, denger, tonton, kecuali apa yang mereka tayangkan. Walhasil, pola pikir dan pola sikap kaum Muslimin banyak yang berkiblat pada gaya hidup Barat. Itu semua bisa terjadi karena kita terlalu berkompromi dalam menyikapi gelombang hedonisme yang menghantam kebudayaan kita. Memang, mungkin kita sudah berusaha menyaring kebudayaan luar tersebut dengan aturan Islam. Tapi yang terjadi malah sebaliknya aturan-aturan Islamlah yang kita sesuaikan dengan kebudayaan tersebut. Akibatnya banyak temen-temen kita yang mengalami krisis identitas sebagai muslim. Mereka seolah malu menampilkan sosoknya sebagai muslim atau muslimah. Seperti dalam tren busana musli-mah yang lagi banyak digandrungi. Berkerudung tapi seksi bin modis. Kerudungnya begitu ketat membalut kepala. Terus, ujung-ujung kain penutup kepala itu yang syar'i-nya menutupi bagian dada, malah ditarik ke atas dan dililitkan ke bagian belakang leher. Mereka menyebutnya kudung gaul. Tapi kok malah jadi amburadul ya..... Bukan itu saja banyak diantara temen-temen kita yang, memunculkan fenomena ‘pacaran islami' dengan batasan no kiss no touch . Padahal jalan berdua dengan lawan jenis yang bukan mahramnya aja udah nggak boleh. Gimana bisa ada pacaran islami? Kecuali aktivitas pacaran itu dilakukan after merit. Sobat muda muslim, kompromi, toleransi, jalan tengah atau sejenisnya memang bukanlah sesuatu yang buruk atau dilarang dalam Islam. Bahkan Al-Qur’an selalu mengajarkan agar kita bersikap toleran . Akan jangan sampai sikap toleransi kita terhadap norma-norma yang datang dari luar ajaran Islam, malah menjauhkan kita dari ajaran Islam itu sendiri. Allah swt. berfirman: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS al-Mâidah [5]: 3) Dalam ayat di atas Allah swt. memastikan kalo agama Islam adalah agama yang sempurna. Aturannya layak dipakai oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Ini berarti nggak ada masalah yang nggak bisa diatasi oleh aturan Islam. Termasuk masalah baru yang muncul karena perkembangan zaman. Semuanya bisa diselesaikan, asalkan kita benar-benar mau mengkaji dan memahami Islam dengan sungguh-sungguh. Adapun pendapat yang bilang hukum Islam itu fleksibel sebenernya berasal dari orang kafir. Seperti yang pernah disampaikan seorang orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher, dalam bukunya. The Introduction to Islamic Law . Dia bilang, perubahan hukum tidak bisa diingkari lagi dengan adanya perubahan tempat dan zaman . Ini artinya fakta yang terjadi karena perkembangan zaman bisa jadi sumber buat pengambilan hukum Islam. Padahal, Islam memiliki sumber hukum yang tidak akan lekang dari perubahan zaman karena bersumber langsung dari sang Khaliq Allah Azza wa jalla, yaitu al-Quran, dan sumber hukum lainnya yang mengacu atau menguatkan al-Qur’an yaitu as-Sunnah, dan yang dibenarkan oleh keduanya; yaitu Ijma Sahabat dan Qiyas. Sehingga dalam hal ini kedudukan fakta dijadikan sebagai obyek hukum. Kalo ada fakta baru, maka akan ada proses istinbath alias penggalian hukum terhadap fakta itu. Di sini terjadi proses penelaahan informasi yang lengkap bin komplit seputar fakta itu. Lalu digali status hukumnya berdasarkan sumber hukum Islam. Proses ijtihad yang dilakukan para muj-tahid inilah yang menjadikan Islam is Never Die ! Sobat muda muslim, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri selagi allah masih memberikan kehidupan untuk kita dan kiata memiliki niat untuk melakukannya saat ini juga. Jalan hidup seperti apa yang akan kita pilih. Haruskah kita mengorbankan jati diri kita sebagai muslim demi status gaul, seksi, atau tren? Pantaskah kita mengutamakan status keduniaan daripada ridho Allah? Ragukah kita terhadap kesempurnaan aturan Allah? Malukah kita kalo harus istiqomah dengan aturan Islam di lingkungan sekuler sekitar kita? So, mari kita jadikan Islam jalan hidup kita. Kita pelajari, pahami, amalkan, yakini, dan dakwahkan. Oke...wallahu a’lam.
Label: Artikel
|