“Ya Allah ampunilah semua orang orang mukmin laki laki dan perempuan, semua orang muslim laki laki dan perempuan dan perbaikilah hubungan mereka yang telah rusak dan satukanlah hati hati mereka.”
Tak ada sesuatu yang paling berharga kecuali iman dan persaudaraan. Keduanya mewujud didalam kasih sayang, manakala lupa saling mengingatkan dan saat lemah saling menopang. Membicarakan persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiyah), kita akan mendapatkan gambaran yang indah, mengenangnya dapat mengembalikan tali persaudaraan yang memungkinkan retak. Nuansa yang indah dari jalinan cinta kasih sayang para sahabat nabi, tak akan membosankan bila selalu didendangkan. Hubungan mereka pasti lebih mesra daripada sepasang muda mudi yang sedang dilanda asmara.
Ikhwah fillah, bagaimana dengan keadaan persaudaraan diantara sesama muslim saat ini? Terbesit jauh dihati, rasa sedih dan malu, menggugat realitas yang ada, paradoks dengan gambaran yang indah tentang persaudaraan Islam di zaman Nabi SAW. Nampaknya persaudaraan kita sedang kering dari siraman mahabah. Tentu hal ini bukan karena pengaruh panas ketika kemarau panjang, nyatanya sedikit saja pergesekan dan perbedaan, begitu mudahnya menyala api perpecahan, lalu menjalar ke segala arah, dan membakar nafsu dan emosi. Rasa iri hati, dengki, hasut masih mendominasi dalam diri kita.
Terkadang kita masih mengedapankan ego kita masing-masing dibanding dengan persahabatan. Contoh riil yang masih kita jumpai dikampus kita, semisal terkait dengan program pendampingan keagamaan (PPK). Kita ketahui ketika diawal pertemuan PPK masih ada oknum mahasiswa yang menebar nuansa-nuansa ketidakbersabatan. Bahkan hal ini tidak berhenti begitu saja, nuansa-nuansa seperti itu masih terus berlanjut. Hingga yang terakhir kita dapai sebuah tulisan yang tertulis dalam pengumuman kelompok PPK dilantai bawah Saintek. Dalam tulisan itu disebutkan “PPK Doktrin, Awas Profokasi”, tentu hal ini tidak baik demi keterjalinan ukhuwah dintara sesama muslim. Apalagi dalam hal ini tidak menyebutkan identitas diri sebagai penanggungjawab atas perbuatannya. Dan tentu hal ini tidak selayaknya dilakukan oleh seorang muslim, apalagi ditujuk,an pula k,epada m,uslim ataupun lembaga yang sifatnya ke-Islaman juga. Jangankan sesame muslim bahakn kepada non muslim pun kita tidak diperkenankan untuk menebar nuansa-nuansa ketidakbersahabatan. Atau permusuhan. Di sini saya mengajak kepada seluruh mahasiswa untuk mengedapankan ukhuwah dalam menyikapi sebuah permasalahan dan mengedepankan sikap tabayyun atau klarisikasi terhadap segala masalah yang ada. Bukankah dalam ajaran Islam juga dijelaskan tentang bagaimana menyelesaikan sebuah permasalahan, yaitu dengan mengedepankan sikap bertabayyun.atau klarifikasi sebelum kita men justifikasi. Selain itu juga dituntut untuk senantiasa bermusyawarah dan mengedepankan ukhuwah daripada permusuhan.
Ikhwah fillah, gambaran diatas belum seberapa, bahkan tak jarang kita jumpai para ustadz dan penasehat ummat ,juga merasa kewalahan didalam menghadapi berbagai kasus sengketa dan percecokan yang terjadi di kalangan ummat. Bahkan tak jarang yang berkeluh kesah, lalu angkat tangan. Kalau sudah begini keadaannya, tentu bukan hanya ummat yang krisis ukhuwah, para ustadz dan penasehat ummat pun bisa dilanda krisis dan ini lebih berbahaya. Mengapa demikian? biasanya jika kita melihat sesuatu yang alpha pada seorang, sering kita secara langsung menjauhinya dan mengisolasi. Tanpa menimbang secara dalam apakah kesalahan yang diperbuat setimpal dengan sangsi yang kita berikan berupa pemutusan hubungan. Pernah terjadi di kalangan sahabat yaitu ka’ab bin malik dan beberapa sahabat yang lain, karena menolak pergi berjihad, padahal mereka mampu atau tidak ada ‘uzdur. Sikap Rosululloh dan para sahabatnya yang mengisolasi mereka selama tiga bulan, kita jadikan sandaran.
Ikhwah fillah, alasan ini tentunya kurang mengena, itu namanya lari dari tanggngjawab. Selama ia tidak keluar dari Islam, tentu menjadi kewajiban bagi kita untuk memperbaikinya. Hukuman rosulullah kepada ka’ab bin malik dan kawan kawanya itu adalah merupakan perwujudan dari pendidikan beliau dan sebagai mana kita baca dalam sejarah ternyata ada limit/batas waktu dan bukan melepas tanpa tanggung jawab.
Ikhwah fillah, mari kita simak sabda rosulullaoh SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Anas ra. “tolonglah saudaramu baik ia zhalim (menganiaya) atau dianiaya, salah seorang dari sahabat bertanya: “ya Rosulullah, kami dapat menolong jika ia dianiaya, jika ia menganiaya?, jawab nabi: kau cegah ia dari menganiaya, itu berarti kau telah menolongnya dari penganiayaan. ”(HR. Bukhori)
Pertanyaan seorang sahabat diatas menggambarkan betapa antusiasnya untuk berta’awun dikalangan sahabat nabi dan nasehat Nabi menggambarkan nilai tanggung jawab. Ikhwah fillah, menolong seseorang muslim dari penganiayaan orang lain, tidaklah terlalu pelik, tetapi bagaimana dengan saudara kita bertingkahlaku sebagai orang yang zhalim, baik yang dizhalmi itu dirinya sendiri ataupun oranglain, padahal kita harus berlaku adil. Hal ini membutuhkan penanganan yang serius untuk menyadarkan, sampai ia menghentikan perbuatannya yang buruk itu, lalu bersedia memperbaikinya.
Ikhwah fillah, ada satu hal yang suka terlupakan, rasa tanggungjawab itu tidak perlu ditunjukan dengan sikap mudah marah dalam memberi tausiyah, karenanya ada tiga hal yang harus senantiasa di ingat tentang tausiyah itu, yaitu bil haq (dengan benar), bis shobr (dengan sabar) dan bil marhamah (dengan cinta kasih sayang). Keras tidak selamanya mendatangkan disiplin keras dan lemah lembut tidak selamanya mendatangkan disiplin lepas kendali. Jadi kasih sayang jangan diartikan longgar tanpa aturan. dan bisa jadi mendatangkan saling pengertian.
Rosululla bersabda: “seseorang mukmin bagi mukmin lainnya, bagaikan sebuah bangunan yang kokoh, sebagainnya saling menguatkan bagian yang lainnya.” (HR. Bukhori-Muslim). Inilah buah persudaraan yang dirajut oleh ukhuwah Islamiyah.
Oleh: Aris Nurkholis : - Ketua HIMA Fisika 2007/2008 - Mahasiswa Pendamping PPK
Label: Artikel
|
Semoga dengan "kembalinya" kekuatan ukhuwah dalam Islam akan meluas pada ukhuwah Insaniyah yang abadi. Amiien