| Kolom Pencarian |
| |
| Pengurus Harian PPK Periode 2010-2011 |
|
|
| Mutira Hadits |
|
|
| Pengumuman |
Selamat Datang Mahasiswa Baru Fakultas Sains dan Teknolgi Tahun 2010.
"Generasi Saintis Muslim Sejati" |
| Temui Admin |
|
|
| MERAJUT UKHUWAH YANG RETAK |
| 07 Desember 2008 |
“Ya Allah ampunilah semua orang orang mukmin laki laki dan perempuan, semua orang muslim laki laki dan perempuan dan perbaikilah hubungan mereka yang telah rusak dan satukanlah hati hati mereka.”
Tak ada sesuatu yang paling berharga kecuali iman dan persaudaraan. Keduanya mewujud didalam kasih sayang, manakala lupa saling mengingatkan dan saat lemah saling menopang. Membicarakan persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiyah), kita akan mendapatkan gambaran yang indah, mengenangnya dapat mengembalikan tali persaudaraan yang memungkinkan retak. Nuansa yang indah dari jalinan cinta kasih sayang para sahabat nabi, tak akan membosankan bila selalu didendangkan. Hubungan mereka pasti lebih mesra daripada sepasang muda mudi yang sedang dilanda asmara.
Ikhwah fillah, bagaimana dengan keadaan persaudaraan diantara sesama muslim saat ini? Terbesit jauh dihati, rasa sedih dan malu, menggugat realitas yang ada, paradoks dengan gambaran yang indah tentang persaudaraan Islam di zaman Nabi SAW. Nampaknya persaudaraan kita sedang kering dari siraman mahabah. Tentu hal ini bukan karena pengaruh panas ketika kemarau panjang, nyatanya sedikit saja pergesekan dan perbedaan, begitu mudahnya menyala api perpecahan, lalu menjalar ke segala arah, dan membakar nafsu dan emosi. Rasa iri hati, dengki, hasut masih mendominasi dalam diri kita.
Terkadang kita masih mengedapankan ego kita masing-masing dibanding dengan persahabatan. Contoh riil yang masih kita jumpai dikampus kita, semisal terkait dengan program pendampingan keagamaan (PPK). Kita ketahui ketika diawal pertemuan PPK masih ada oknum mahasiswa yang menebar nuansa-nuansa ketidakbersabatan. Bahkan hal ini tidak berhenti begitu saja, nuansa-nuansa seperti itu masih terus berlanjut. Hingga yang terakhir kita dapai sebuah tulisan yang tertulis dalam pengumuman kelompok PPK dilantai bawah Saintek. Dalam tulisan itu disebutkan “PPK Doktrin, Awas Profokasi”, tentu hal ini tidak baik demi keterjalinan ukhuwah dintara sesama muslim. Apalagi dalam hal ini tidak menyebutkan identitas diri sebagai penanggungjawab atas perbuatannya. Dan tentu hal ini tidak selayaknya dilakukan oleh seorang muslim, apalagi ditujuk,an pula k,epada m,uslim ataupun lembaga yang sifatnya ke-Islaman juga. Jangankan sesame muslim bahakn kepada non muslim pun kita tidak diperkenankan untuk menebar nuansa-nuansa ketidakbersahabatan. Atau permusuhan. Di sini saya mengajak kepada seluruh mahasiswa untuk mengedapankan ukhuwah dalam menyikapi sebuah permasalahan dan mengedepankan sikap tabayyun atau klarisikasi terhadap segala masalah yang ada. Bukankah dalam ajaran Islam juga dijelaskan tentang bagaimana menyelesaikan sebuah permasalahan, yaitu dengan mengedepankan sikap bertabayyun.atau klarifikasi sebelum kita men justifikasi. Selain itu juga dituntut untuk senantiasa bermusyawarah dan mengedepankan ukhuwah daripada permusuhan.
Ikhwah fillah, gambaran diatas belum seberapa, bahkan tak jarang kita jumpai para ustadz dan penasehat ummat ,juga merasa kewalahan didalam menghadapi berbagai kasus sengketa dan percecokan yang terjadi di kalangan ummat. Bahkan tak jarang yang berkeluh kesah, lalu angkat tangan. Kalau sudah begini keadaannya, tentu bukan hanya ummat yang krisis ukhuwah, para ustadz dan penasehat ummat pun bisa dilanda krisis dan ini lebih berbahaya. Mengapa demikian? biasanya jika kita melihat sesuatu yang alpha pada seorang, sering kita secara langsung menjauhinya dan mengisolasi. Tanpa menimbang secara dalam apakah kesalahan yang diperbuat setimpal dengan sangsi yang kita berikan berupa pemutusan hubungan. Pernah terjadi di kalangan sahabat yaitu ka’ab bin malik dan beberapa sahabat yang lain, karena menolak pergi berjihad, padahal mereka mampu atau tidak ada ‘uzdur. Sikap Rosululloh dan para sahabatnya yang mengisolasi mereka selama tiga bulan, kita jadikan sandaran.
Ikhwah fillah, alasan ini tentunya kurang mengena, itu namanya lari dari tanggngjawab. Selama ia tidak keluar dari Islam, tentu menjadi kewajiban bagi kita untuk memperbaikinya. Hukuman rosulullah kepada ka’ab bin malik dan kawan kawanya itu adalah merupakan perwujudan dari pendidikan beliau dan sebagai mana kita baca dalam sejarah ternyata ada limit/batas waktu dan bukan melepas tanpa tanggung jawab.
Ikhwah fillah, mari kita simak sabda rosulullaoh SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Anas ra. “tolonglah saudaramu baik ia zhalim (menganiaya) atau dianiaya, salah seorang dari sahabat bertanya: “ya Rosulullah, kami dapat menolong jika ia dianiaya, jika ia menganiaya?, jawab nabi: kau cegah ia dari menganiaya, itu berarti kau telah menolongnya dari penganiayaan. ”(HR. Bukhori)
Pertanyaan seorang sahabat diatas menggambarkan betapa antusiasnya untuk berta’awun dikalangan sahabat nabi dan nasehat Nabi menggambarkan nilai tanggung jawab. Ikhwah fillah, menolong seseorang muslim dari penganiayaan orang lain, tidaklah terlalu pelik, tetapi bagaimana dengan saudara kita bertingkahlaku sebagai orang yang zhalim, baik yang dizhalmi itu dirinya sendiri ataupun oranglain, padahal kita harus berlaku adil. Hal ini membutuhkan penanganan yang serius untuk menyadarkan, sampai ia menghentikan perbuatannya yang buruk itu, lalu bersedia memperbaikinya.
Ikhwah fillah, ada satu hal yang suka terlupakan, rasa tanggungjawab itu tidak perlu ditunjukan dengan sikap mudah marah dalam memberi tausiyah, karenanya ada tiga hal yang harus senantiasa di ingat tentang tausiyah itu, yaitu bil haq (dengan benar), bis shobr (dengan sabar) dan bil marhamah (dengan cinta kasih sayang). Keras tidak selamanya mendatangkan disiplin keras dan lemah lembut tidak selamanya mendatangkan disiplin lepas kendali. Jadi kasih sayang jangan diartikan longgar tanpa aturan. dan bisa jadi mendatangkan saling pengertian.
Rosululla bersabda: “seseorang mukmin bagi mukmin lainnya, bagaikan sebuah bangunan yang kokoh, sebagainnya saling menguatkan bagian yang lainnya.” (HR. Bukhori-Muslim). Inilah buah persudaraan yang dirajut oleh ukhuwah Islamiyah.
Oleh: Aris Nurkholis : - Ketua HIMA Fisika 2007/2008 - Mahasiswa Pendamping PPK
Label: Artikel
Baca Selengkapnya!
|
Di Posting Oleh: ppk uin suka @ Pada Pukul: 15.01.00  |
|
|
|
| Sholat Khusuk Itu Mudah dan Sangat Nikmat |
|
Bagaimana sih sholat yang khusuk itu??? Terkadang kita sholat tapi pikiran kita kemana –mana (kayak motor aja yach bisa kemana – mana hehe..tapi bukan itu maksudnya semoga bisa dimengerti).
kalimat pertama yang mengesankan saya adalah komentar Marwah Daud, yang meyakini bahwa karunia terbesar dalam hidup ini bukanlah kakayaan dan jabatan, tapi adalah diberi karunia shalat yang khusyu’. Dia yakini ini berdasar surat Qur’an Surat Al Mukminun 1-2, “Telah beruntunglah orang-orang mukmin, yaitu mereka yang khusyu’ dalam sholatnya”.
Untuk lebih jelasnya bisa dibaca pada buku yang berjudul “Pelatihan Sholat Khusu’ “ penulisnya Abu Sangkan, buku yang relatif tipis tapi lumayan mahal harganya Rp. 50.000; tapi isinya luar biasa, sampulnya gambar orang yang sedang sholat ditepi danau, dengan nuansa sampul putih dan biru air.
Sekarang bagaimana sih tipsnya?? dari buku yang tersebut diatas inilah tips sholat khusu’. Selamat membaca, mencoba dan mengamalkannya.
1. Bersikap rileks menyiapkan diri kita untuk siap ‘menerima’ karunia khusyu’, karena khusyu’ itu diberi bukan kita ciptakan.
Bersikap rileks. Kepala hingga pinggang dikendorkan, jatuh laksana kain basah yang dipegang ujungnya dari atas. Berat badan mengumpul di kaki yang kemudian serasa keluar akarnya, mengakar ke bumi. Berdiri santai, senyaman kita berdiri. Abu Sangkan menggambarkan laksana pohon cemara, meluruh atasnya, kokoh akarnya sehingga luwes tertiup angin namun tak roboh.
2. Berikan kesempatan ruh kita -sebut saja “aku” yang sejati- untuk mengambil sikap sholatnya.
Dia agak lamban, namun sholat ini utamanya untuk ‘aku” kita itu, bukan untuk badan fisik kita. Ketika kita sholat, selain badan fisik kita ini sholat pula ruh kita. Ruh inilah yang benar-benar ingin sholat -kembali menemui Tuhannya- sementara badan fisik ini sarana kita mengantarnya dengan gerakan dan bacaan. Ruh kita ini sesungguhnya ingin sholat dengan tenang, santai, tuma’ninah. Sayangnya badan kita ‘ngebut’, jadilah ruh kita itu jengkel sejengkel-jengkelnya karena selalu ketinggalan gerakan badan.
Maka tips sederhana dari buku itu adalah jika ruku’, tunggu, tunggu hingga ruh ikut mantap dalam ruku’ itu. Saat I’tidal, tunggu, tunggu hingga ruh mu ikut mantap I’tidal. Demikian pula saat sujud, duduk antara dua sujud, juga duduk tasyahud. Tunggu, tunggu hingg ruh mu ikut sujud, ikut duduk, ikut tasyahud.
3. Esensi sholat adalah doa, berdialog dengan Allah secara langsung.`
Kita sebenarnya diberi kesempatan untuk mengadu. Kita adukan semua persoalan kita kepada Allah. Kita adukan semua kebingungan kita, pekerjaan, rizki, kesehatan, cinta, dan semua apapun. Kita mengadu, dan kita pasrah menunggu dijawab. Dan pasti Allah menjawabnya langsung. Ruh bisa merasakannya, namun kalau dia dipaksa tertinggal-tinggal oleh gerakan badan, maka dia tidak sempat menikmati pertemuan dengan Allah itu.
Label: Artikel
Baca Selengkapnya!
|
Di Posting Oleh: ppk uin suka @ Pada Pukul: 14.56.00  |
|
|
|
| SHOLAT SEBUAH MEDITASI ENERGI |
|
Sholat adalah sebuah meditasi energy, kenapa di katakana demikian karena sholat harus dilakukan dengan kekhusukan dan konsentrasi agar kita bisa berkomunikasi dengan Allah SWT. Selain itu, do’a – do’a yang kit baca dalam sholat ternyata menghasilkan energy positif, yang kekuatannya bergantung pada kekhusukan kita.
Tujuan utama sholat adalah zikrullah (ingat pada Allah), agar tujuan itu terwujud, maka kita harus menghadirkan Allah dalam setiap ucapan dan gerakan sholat. Kalau yang terjadi malah kita ingat segala macam maka tujuan sholat tidak tercapai. Dan khusuk juga maka meditasi kita akan berhasilkan. Bagaimana caranya?
Pahami kuncinya adalah hati, karena yang lebih berfungsi untuk merasakan dan memahami adalah hati, sedangkan pikiran atau otak lebih berfungsi untuk berfikir, mengingat dan menganalisa. Dalam sholat yang harus kita lakukan adalah memahami dan merasakan kehadiran Allah, bukan malah berfikir dan mengingatnya untuk itu kita harus mempasifkan fungsi otak dan mengaktifkan hati, dengan kata lain pasifkanlah pasca indar dan aktifkanlah indera keenam yaitu hati.
Pemahaman yang ditangkap oleh hati lebih substansi dibandingkan panca indera, karena itu secara logika praktis, kita bias melakukan meditasi tertentu, dan kemudian memahami suatu persoalan secara langsung tanpa menggunakan panca indera kita cara inilah yang kita gunakan untuk mengkhusukkan sholat. Panca indera pasifkan dan aktifkan hati kita
Jadi yang kita lakukan dalam sholat kita pada dasarnya mencoba menghadirkan kehadiran Allah smabil melakukan resonansi energy do’a- do’a yang kit abaca untuk membuka hati kita. Maka apa yang sedang terjadi ketika seorang khusuk dalam sholatnya? Dia sebenarnya sedang melatih hatinya untuk bergetaran mengikuti getaran – getaran lembut yang dipancarkan oleh do’a – do’a yang sedang kita ucapkan yang bukan sekedar hafalan.
Sholat Berjama’ah
Apa pentngnya sholat berjama’ah? Rosulullah mengatakan bahwa sholat sendirian bernilai 1 sedangkan sholat berjama’ah bernilai 27 kali lipat, yupz awalnya kita tahu bahwa orang yang sedang sholat memancarkan energy, dianalogikan dngan sebuah baterai ketika belum dihubungkan dengan lampu atau peralatan tertentu. Baterai ini itdak memancarkan energinya, tetapi begitu terkumpul dia akan memancarkan energinya. Demikian pula orang sholat. Pada saat dia belum melakukan sholat maka energy itu tidak terpancarkan, tetapi begitu dia melakukan sholat maka energinya akan terpancar secara vertical maupun horizontal.
Ibarat baterai, kalau kita menyalakan lampu dengan sebuah baterai, maka terang sinarnya tentu akan kalah dengan lampu yang dinyalakan dengan menggunakan tiga baterai atau sepuluh baterai, semakin banyak baterai yang digunakan maka nyala lampu itu akan semakin terang.
Demikian juga dengan orang sholat. Jika kita sholat sendirian, maka energy yang kita pancarkan kekuatannya hanya satu pancaran saja, tetapi kalau kita sholat berjama’ah, maka pancaran energy yang kita hasilkan menjadi jauh lebih besar. Persis sejumlah baterai yang di gabungkan secara serial untuk menghidupkan lampu. Jadi dengan sholat berjama’ah itu Rosulullah sedang mengajarkan pada kita, agar energy yang kita hasilkan menjadi lebih besar ketimbang sholat sendiriankarena itu kata Rosulullah kalau sholat berjama’ah shofny a jangan rengang – rengang persis dengan jumlah baterai yang dihubungkan serial satu dengan yang lainnya harus bersentuhan positif dan negatifnya demikian pula sholat berjama’ah kita harus bersentuhan satu sama lain tentu tidak perlu sampai berdesakan karena justru akan mengaggu kekhusukan sholat kita.
Subhanallah ternyata Allah memerintahkan kepada kita bukan hanya semata – mata perintah tetapi penuh dengan kemanfaatan. So apa yang kita ragukan lagi dengan maha kuasanya Allah mengatur segala kehidupan. Semoga bermanfaat.
Reff : Mustofa,Ir. Agus. “ Pusara Energi Ka’bah “ cot X. PADMA Pres, Surabaya: 2006.
Label: Artikel
Baca Selengkapnya!
|
Di Posting Oleh: ppk uin suka @ Pada Pukul: 14.51.00  |
|
|
|
|
|